Belajar Calistung, Kapan Mulai Diperkenalkan pada Anak?

Salah satu ukuran kecerdasan anak bagi orang tua dan banyak orang di lingkungan adalah kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Meski berdasarkan peraturan terbaru Kemendikbud tahun 2018 hal tersebut tidak boleh diperkenalkan pada anak usia dini atau TK, orang tua tetap khawatir jika anak terlambat dalam belajar calistung.

Kapan Anak Mulai Belajar Calistung

Telah disebutkan bahwa peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terbaru tidak memperkenalkan calistung diperkenalkan pada anak usia balita. Usia ini dianggap terlalu dini bagi anak untuk dipaksa belajar fokus. Bahkan, Kemendikbud mensyaratkan bahwa syarat masuk SD cukup telah berusia 7 tahun.

Tidak ada acuan kapan anak dapat diajarkan calistung karena kematangan anak berbeda-beda. Anak yang lebih dulu dapat membaca dan berhitung belum tentu lebih cerdas. Selama tumbuh kembang anak dalam kategori normal, calistung bukan ukuran kecerdasan.

Anda dapat mulai mengajarkan anak berhitung dengan memperhatikan:

1. Fokus Anak

Fokus anak dalam keseharian dapat terlihat dari sikapnya. Anak yang sudah dapat fokus 3 sampai 5 menit dikatakan sudah mempunyai kematangan usia sekolah. Dengan demikian Anda sudah dapat mengajarkannya calistung.

2. Tahapan Belajar Calistung

Pada dasarnya calistung merupakan kecerdasan kognitif yang dapat dikembangkan sejak dini. Tapi mengembangkannya bukan dengan langsung mengajarkan huruf, misalnya. Ada tahapan belajar calistung yang dapat diterapkan.

3. Sabar

Setiap anak adalah unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan kesadaran tersebut, hendaknya orang tua sabar dalam menghadapi perkembangan belajarnya. Jangan memaksa anak untuk belajar. Anak yang trauma akan kesulitan dalam belajar di tingkat selanjutnya.

Tahapan Belajar Calistung Anak

Mengajarkan anak calistung bukan berarti langsung mengajarkan anak huruf, angka, menghitung, dan menulis rapi. Ada tahapan berikut yang harus dilalui agar anak siap lebih cepat dengan hasil memuaskan.

1. Membaca Gambar

Saat anak sudah dapat diajak bicara sebagai tahapan awal dapat diajak membaca gambar atau memperkenalkan simbol-simbol. Contoh membaca gambar; menyebutkan gambar binatang dan memperkenalkan benda di sekitar.

2. Membacakan Cerita

Lebih baik Anda membaca cerita daripada memaksa anak untuk membaca. Bacakan buku cerita dengan banyak gambar untuk mengasah logikanya! Setelah anak mulai paham, Anda dapat meminta mereka bercerita.

Membaca cerita mengajak anak untuk mencintai literasi. Kelak jika anak sudah dapat membaca, mereka senang membaca buku dan memahami apa yang dibacanya.

3. Membilang dan Menghitung

Membilang artinya menyebutkan angka secara urut. Sementara berhitung berarti membilang disertai dengan benda yang sesuai urutan. Membaca angka termasuk dalam belajar membaca.

Mengajar anak membilang dan menghitung tidak perlu formal. Anda dapat anak menghitung bersama jumlah boneka yang dimilikinya atau gambar pohon dalam buku. Dalam satu waktu Anda mengajarkan banyak hal.

4. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus

Motorik halus berkaitan dengan kemampuan menulis. Anak yang tidak dilatih sejak dini akan sulit menulis.
Mengenggam benda, mengambil benda berukuran kecil, meremas kertas, sampai menggunting merupakan bagian latihan motoric halus.

Tidak sulit jika tahapan belajar calistung sudah dilakukan sejak dini. Hanya membutuhkan waktu lebih dari Anda sebagai orang tua. Waktu yang sebenarnya menjadi hak anak untuk tumbuh kembang optimal. Jadi,

Daripada Anda menyekolahkan anak ke PAUD dengan harapan belajar formal lebih baik menerapkan langkah di atas di rumah. Selamat mencoba!

Baca juga : Anak malas belajar? Coba cara ini untuk mengatasinya

You May Also Like

About the Author: Nani Ana

error: Content is protected !!