Pendidikan Anak Usia Dini, Tren atau Kebutuhan?

Memiliki anak yang masih kecil tentunya sangat menyenangkan sekaligus tantangan baru. Tantangan dalam segala hal, termasuk mengenai pendidikannya. Orang tua pada umumnya menginginkan pendidikan terbaik. Pendidikan anak usia dini (PAUD), menjadi salah satu pilihan. Ibu zaman sekarang menganggap pendidikan anak usia dini sebagai salah satu investasi. Investasi jangka panjang bagi kesuksesan anak di masa depan.

Pendidikan Usia Dini, Kebutuhan?

Secara psikologis, anak usia dini atau balita belum siap bersekolah secara formal. Mereka masih membutuhkan waktu lebih banyak untuk dekat dengan orang tuanya. Namun, kebanyakan orang tua saat ini khawatir anak tertinggal dengan teman sebaya. Khawatir anak lain sudah lebih pandai.

Jika anak menyekolahkan anak di sekolah usai dini karena hal di atas, maka itu namanya ikut tren. Anda tidak memperhatikan kebutuhan anak. Seharusnya, Anda tidak perlu khawatir jika anak tidak sekolah usai balita. Anak yang bisa membaca terlebih dahulu bukan pertanda lebih pandai. Yang terpenting, pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Bagaimana menilai kebutuhan anak untuk mendapatkan usia dini? Pertimbangkan hal-hal berikut.

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Anak yang pertumbuhan dan perkembangannya optimal, pada dasarnya tidak buruk pendidikan dini. Mereka sudah memperoleh semuanya di rumah.

Anda dapat melihat pertumbuhan dan perkembangan optimal dari daftar tumbuh kembang yang tersedia. Jika mendekati atau sudah semua dalam daftar terpenuhi, berarti anak tidak bermasalah.

Anak membutuhkan pendidikan dini, misalnya perkembangan bicaranya terlambat. Mungkin anak buruk lebih banyak teman sebaya untuk sosialisasi.

2. Keinginan Anak

Pertimbangkan keinginan anak untuk sekolah. Sudah siap dan maukah mereka beberapa jam terpisah dari orang tua? Jangan memaksa anak untuk sekolah di usia ini karena dapat menyebabkan trauma.

Nah, jika dua hal di atas sudah menjadi pertimbangan maka Anda dapat memutuskan anak untuk memasuki sekolah usia dini atau tidak. Sekali lagi, jangan memaksa. Ada saat di mana anak akan siap untuk mengikuti pendidikan lebih formal.

Memilih Tempat Pendidikan Anak Usia Dini Terbaik

Ketika Anda memutuskan anak untuk mengikuti PAUD, maka pilihlah yang terbaik. Mengapa demikian? Usia anak yang masih 2 sampai 5 tahun sebenernya belum dapat menerima pelajaran secara formal. Sementara banyak PAUD saat ini seperti menyiapkan anak masuk sekolah dasar.

Anak yang terlalu cepat mengikuti PAUD juga seringkali cepat bosan. Saat itu, orang tua merasa anak harus mesum jenjang selanjutnya, Taman Kanak-Kanak meski usia belum saatnya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah, antara lain:

1. Lingkungan sekolah

Sebelum mendaftarkan anak ke suatu sekolah, akan lebih baik untuk meneliti lingkungan sekolahnya. Fasilitas apa saja yang dimiliki oleh sekolah tersebut dan memadai atau tidak. Termasuk juga jumlah murid dalam setiap kelasnya. Jumlah murid dan guru harus seimbang agar perkembangan optimal. PAUD yang baik harus lebih banyak fasilitas bermain dan belajar dibandingkan fasilitas “sekolah”.

2. Tenaga pengajar

Sekolah yang baik adalah yang memiliki tenaga pengajar yang handal. Tenaga kerja yang handal merupakan ujung tombak pendidikan anak. Tugas pengajar membuat murid nyaman di sekolah sehingga lebih baik dalam menyerap ilmu.

Tenaga pengajar yang baik bukan semata-mata lulusan sarjana. Mereka harus sabar dan tangguh menghadapi balita.

3. Kurikulum

Suatu pendidikan yang baik dapat dilihat dari kurikulumnya. Kurikulum dan pola pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Konsep belajar dan kurikulum seharusnya tidak banyak belajar calistung. Mereka harus mempunyai cara sendiri agar anak kelak siap belajar. Bukan memaksa mereka harus siap membaca, menulis, dan berhitung.

Itulah hal-hal yang harus Anda perhatikan sebagai orang tua ketika hendak mendaftarkan balita pendidikan anak usia dini. Jangan pernah mendaftar karena melihat orang lain sudah sekolah. Setiap anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.

Baca juga : Kreasi kardus bekas, mengasah kreatifitas anak-anak

You May Also Like

About the Author: Nani Ana

error: Content is protected !!